psikologi
PSIKOLOGI
DISUSUN
OLEH
NPM
: 05160000019
PROGRAM
STUDI : (PR)
JURUSAN
KOMUNIKASI
SEKOLAH
TINGGI ILMU KOMUNIKASI YIMA INDONESIA MAJU (STIKOM)
LENTENG
AGUNG – JAKARTA SELATAN
2016
– 2017
BAB I
Ruang Lingkup Dan Definisi Psikologi
A. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar.
Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian psikologi dan pendidikan?
2. Apa objek kajian psikologi dan psikologi pendidikan?
3. Apa ruang lingkup psikologi pendidikan?
2. Apa objek kajian psikologi dan psikologi pendidikan?
3. Apa ruang lingkup psikologi pendidikan?
B. PEMBAHASAN
2.1 Pengertian psikologi dan pendidikan
Pengertian psikologi pendidikan tak lepas dari dua akar katanya yaitu kata psikologi dan pendidikan. Seperti yang kita tahu bahwa psikologi adalah ilmu jiwa. Lebih jelasnya psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu itu. Karena psikologi membahas hal demikian, maka jiwa seseorang , macam-macam gejalanya, proses dan hal-hal yang melatar belakanginya dipelajari disini.
Selanjutnya
kata “Pendidikan” menurut KBBI adalah proses pengubahan sikap dan tata laku
seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan. Kemudian psikologi pendidikan memiliki arti sebuah
disiplin ilmu psikologis yang mempelajari atau meneliti masalah psikologis yang
terjadi dalam dunia pendidikan baik faktor-faktornya maupun latar belakangnya.
Lebih
jelasnya, psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang memusatkan
perhatian pada perkembangan anak baik fisik maupun mental yang semuanya itu
berkaitan erat dengan tindakan belajar, pendidikan dan yang paling signifikan
adalah keberhasilan belajarnya.
2.2 Objek Kajian Psikologi Pendidikan
Objek kajian psikologi pendidikan tanpa mengabaikan persoalan psikologi guru terletak pada peserta didik. Karena hakikat pendidikan adalah pelayanan khusus diperuntukkan bagi peserta didik. Oleh karena itu objek kajian psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologi pendidikan sebagai ilmu, tetapi lebih condong pada aspek psikologis peserta didik, khususnya ketika mereka terlibat dalam proses pembelajaran.
Menurut Glover dan Ronning bahwa objek kajian psikologi pendidikan mencakup topik-topik tentang pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, hereditas dan lingkungan, perbedaan individual peserta didik, potensi dan karakteristik tingkah laku peserta didik, pengukuran proses dan hasil pendidikan dan pembelajaran, kesehatan mental, motivasi dan minat, serta disiplin lain yang relean.
Sedangkan menurut Syaodih Sukmadinata dalam Syaiful Sagala mengatakan bahwa objek kajian psikologi pendidikan adalah interaksi antara pendidik dengan peserta didik untuk meningkatkan kemampuan peserta didik, dengan dukungan sarana dan fasilitas tertentu yang berlangsung dalam lingkungan tertentu.
Psikologi pendidikan berusaha untuk mewujudkan tindakan psikologis yang tepat dalam interaksi antar setiap faktor pendidikan. Pengetahuan psikologis tentang peserta didik menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan. Karena itu, pengetahuan tentang psikologi pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan bagi para guru, bahkan bagi tiap orang yang menyadari dirinya sebagai pendidik.
Secara garis besar banyak ahli membatasi objek kajian psikologi pendidikan menjadi tiga macam:
- Mengenai “belajar”, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar peserta didik, dan sebagainya;
- Mengenai “proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik;
- Mengenai “situasi belajar”, yakni suasana dan keadaan lingkungan, baik bersifat fisik maupun nonfisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik
2.3 Ruang lingkup psikologi pendidikan
Ruang
lingkup psikologi pendidikan banyak dikemukakan oleh para ahli, diantaranya hal
ini dikemukakan oleh Crow & Crow yang menjelaskan ruang lingkup pendidikan
dalam beberapa poin, diantaranya; sejauh mana faktor-faktor pembawaan dan
lingkungan berpengaruh terhadap belajar, sifat-sifat dari belajar itu sendiri,
hubungan tingkat kematangan dengan kesiapan belajar atau yang disebut dengan
learning readiness.
Selain
itu, perubahan-perubahan jiwa yang terjadi selama proses belajar, hubungan
antara prosedur mengajar dan hasil belajar peserta didik, cara atau teknik yang
sangat efektif untuk kemajuan belajar dan akibat/ pengaruh psikologis yang
ditimbulkan para peserta didik oleh kondisi sosiologis dan sebagainya.
Pada
intinya, psikologi pendidikan itu ruang lingkupnya membahas tentang hereditas
dan lingkungan, pertumbuhan dan perkembangan, hasil proses pendidikan dan
pengaruhnya, potensial dan karakteristik tingkah laku, dan evaluasi belajar.
BAB II
Motivasi dan Emosi
A.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Stres,
kecemasan ,depresi dan emosi negatif seperti sedih, marah , kecwa, putus asa
jenuh, tidak bisa kita hindari secara penuh. Hal ini disebabkan perubahan
kehidupan yang semakin cepat dan kompleks. Sebagai contoh krisis ekonomi yang
dialami Indonesia menyebabkan dampak negatif yang menekan. Akibat tekanan emosi
yang tidak dapat dikendalikan individu dapat menyebabkan hal yang negatif.
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa pentingnya kemampuan mengelola emosi untuk
dikuasai dan dikembangkan.
Motivasi
merupakan istilah yang lebih umum, yang merujuk kepada seluruh proses gerakan
termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul alam diri individu,
perilaku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan atau akhir daripada
tindakan atau perbuatan. Kebutuhan untuk mencari keseimbangan akan menimbulkan
dorongan untuk berbuat sesuatu. Setelah perbuatan dilakukan, maka tercapailah
keadaan seimbang dalam diri individu dan timbul perasaan puas, gembira, aman
dan sebagainya
Adapun
yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: definisi motivasi dan emosi,
macam-macam motivasi dan emosI, teori-teori motivasi dan emosi, bentuk motivasi
dan emosi, serta fungsi motivasi dan proses terjadinya motivasi dan
emosi.
Dengan
pembahasan dalam makalah ini diharapkan, pembaca mampu mengetahui dan memahami
definisi motivasi dan emosi, macam-macam motivasi dan emosI, teori-teori
motivasi dan emosi, bentuk motivasi dan emosi, serta fungsi motivasi dan
proses terjadinya motivasi dan emosi.
B.PEMBAHASAN
2.1 Motivasi
Motivasi
dan emosi mempunyai hubungan yang erat, perasaan menentukan tindakan kita, dan
sebaliknyaa, perilaku seringkali menentukan bagaimana perasaan kita
2.1.1 Pengertian Motivasi
Motif,
atau dalam bahasa inggris motive berasal dari kata movere (Italia) atau motion,
yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Dalam psikologi, istilah motif
erat dengan gerak yang dilakukan oleh manusia atau disebut dengan perbuatan
atau perilaku manusia. Motif dalam psikologi juga berarti rangsangan, dorongan,
atau pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu perbuatan atau perilaku.
Motivasi
merupakan istilah yang lebih umum yang merujuk kepada seluruh gerakan itu,
termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbuldari dalam individu,
perilaku yang timbul dari situasi tersebut, dan tujuan atau akhir dari
perbuatan atau tindakan tersebut.
Motivasi
adalah kekuatan, tenaga, keadaan yang komleks, kesiapsediaaan dalam diri
manusia atau individu untuk bergerak (motion) kearah tujuan tertentu, baik
disadari ataupun tidak di sadari.
2.1.2 Sumber-Sumber Motivasi
·
Intrinsik
Sumber
motivasi instrinsik adalah suatu perilaku dikategorikan didasari motivasi bila
perilaku tersebut berhubungan dengan fungsi perilaku tersebut. Contoh: makan
karena merasa lapar.
·
Ektrinsik
Sumber
motivasi ekstrinsik adalah bila dari perilaku tersebut tidak berhubungan
langsung dengan perilaku tadi. Contoh: makan karena menghargai tawaran teman
,meskipun tidak lapar.
2.1.3 Macam-Macam Motivasi
·
Motivasi primer atau dasar bersifat tidak dipelajari. Contoh: seseorang sedang
belajar, tiba-tiba mendengar teriakan “tolong” maka tanpa berpikir lagi orang
tersebut akan bangkit dan mencari sumber suara tadi.
·
Motivasi sekunder berkembang dalam diri individu karena pengalaman dan
dipelajari. Contoh: seseorang merasa takut dan bersembuyi ketika mendengar
sirine pada masa perang, karena biasanya akan ada serangan.
2.1.4 Fungsi Motivasi
Motivasi mempunyai beberapa fungsi, diantaranya:
·
Sebagai dorongan atau kekuatan oleh
individu untuk melakukan sesuatu
·
Sebagai suatu respon yang
dipelajari.
·
Sebagai energi
·
Sebagai perantara pada organisme
atau manusia untuk manusia itu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
2.1.5 Teori-Teori Motivasi
Ada beberapa teori motivasi, yaitu:
·
Teori insting (naluri) Seseorang
tidak memiliki tujuan dan perbuatan tetapi dikuasai oleh kekuatan-kekuatan
bawaan yang menentukan tujuan dan perbuatan yang akan dilakukan.
·
Teori dorongan Bahwa individu
memiliki dorongan-dorongan yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan dalam
berperilaku.
·
Teori kognitif Seseorang harus
memilih perilaku mana yang mesti dilakukan yang akan membawa manfaat bagi
dirinya.
Sebenarnya ada banyak para ahli dengan pendapat mereka masing-masing tentang teori motivasi, termasuk David McClelland dan A.H. Maslow. Menurut Mclelland, ada tiga hal yang melatar belakangi motivasi seseorang:
The Need for Achievement (n-ach) – Kebutuhan akan Prestasi / Pencapaian
Kebutuhan akan prestasi adalah kebutuhan seseorang untuk memiliki pencapaian signifikan, menguasai berbagai keahlian, atau memiliki standar yang tinggi. Orang yang memiliki n-ach tinggi biasanya selalu ingin menghadapi tantangan baru dan mencari tingkat kebebasan yang tinggi.
Sebab-sebab seseorang memiliki n-ach yang tinggi di antaranya adalah pujian dan imbalan akan kesuksesan yang dicapai, perasaan positif yang timbul dari prestasi, dan keinginan untuk menghadapi tantangan.
Tentunya imbalan yang paling memuaskan bagi mereka adalah pengakuan dari masyarakat
The Need for Authority and Power (n-pow) – Kebutuhan akan Kekuasaan
Kebutuhan ini didasari oleh keinginan seseorang untuk mengatur atau memimpin orang lain. Menurut Mclelland, ada dua jenis kebutuhan akan kekuasaan, yaitu pribadi dan sosial.
Contoh dari kekuasaan pribadi adalah seorang pemimpin perusahaan yang mencari posisi lebih tinggi agar bisa mengatur orang lain dan mengarahkan ke mana perusahaannya akan bergerak. Sedangkan kekuasaan sosial adalah kekuasaan yang misalnya dimiliki oleh pemimpin seperti Nelson Mandela, yang memiliki kekuasaan dan menggunakan kekuasaannya tersebut untuk kepentingan sosial, seperti misalnya perdamaian.
TNeed for Affiliation (n-affil) – Kebutuhan akan Afiliasi / Keanggotaan
Kebutuhan ini adalah
kebutuhan yang didasari oleh keinginan untuk mendapatkan atau menjalankan hubungan yang baik dengan orang lain. Orang merasa ingin disukai dan diterima
oleh sesamanya.
McClelland mengatakan bahwa kebutuhan yang kuat akan afiliasi akan mencampuri objektifitas seseorang. Sebab, jika ia merasa ingin disukai, maka isuka akaa.
Sedangkan, sebab-sebab n-affil dari seseorang bisa bermacam-macam, dan salah satu contohnya bisa Anda lihat dari tragedi 11 September di Amerika Serikat. Setelah kejadian tersebut, banyak orang-orang Amerika yang melupakan kepentingan mereka dan memilih untuk bersatu sehingga mereka memiliki rasa aman.
McClelland mengatakan bahwa kebutuhan yang kuat akan afiliasi akan mencampuri objektifitas seseorang. Sebab, jika ia merasa ingin disukai, maka isuka akaa.
Sedangkan, sebab-sebab n-affil dari seseorang bisa bermacam-macam, dan salah satu contohnya bisa Anda lihat dari tragedi 11 September di Amerika Serikat. Setelah kejadian tersebut, banyak orang-orang Amerika yang melupakan kepentingan mereka dan memilih untuk bersatu sehingga mereka memiliki rasa aman.
Hierarki kebutuhan menurut Abraham Maslow adalah sebagai berikut:
·
Kebutuhan
fisiologis dasar, seperti makanan, pakaian, perumahan, dan
fassilitas-fasilitas dasar lainnya yang berguna untuk kelangsungan hidup
pekerja.
·
Kebutuhan
akan rasa aman, seperti lingkungan kerja yang bebas dari segala bentuk
ancaman, keamanan jabatan atau posisi, status kerja yang jelas, dan keamanan
alat yang dipergunakan
·
Kebutuhan
untuk dicintai dan disayangi, seperti interaksi dengan rekan kerja, kebebasan
melakukan aktivitas sosial, dan kesempatan yang diberikan untuk menjalin
hubungan akrab dengan orang lain.
·
Kebutuhan
untuk dihargai, seperti pemberian penghargaan, dan mengakui hasil karya
individu
·
Kebutuhan
aktualisasi diri, seperti kebebasan dan kesempatan untuk merealisasikan
cita-cita atau harapan individu, kebebasan untuk mengembangkan bakat atau
talenta yang dimiliki.
3.1
Emosi
Manusia
adalah makhluk yang memiliki rasa dan emosi. Hidup manusia diwarnai dengan
emosi dan berbagai macam perasaan. Manusia sulit menikmati hidup secara
optimal tanpa memiliki emosi. Manusia bukanlah manusia jika tanpa adanya
emosi. Kita memiliki emosi dan rasa, karena emosi dan rasa menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dalam kehidupan kita sebagai manusia. Ahli psikologi
memandang manusia adalah makhluk secara alami memiliki emosi.
Emosi berasal dari kata e yang berarti energi dan motion yang berarti
getaran. Emosi kemudian dikatakan sebagai sebuah energi yang terus bergerak
dan bergetar. Emosi dalam arti harfiah didefisinisikan sebagai setiap
pergolakan atau kegiatan pikiran, perasaan, nafsu, dari setiap keadaan mental
yang hebat atau meluap-luap. Emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh
situasi tertentu. Emosi cenderung mengarah untuk menyingkirkan sesuatu.
Emosi adalah suatu
konsep yang sangat majemuk tidak ada satupun definisi yang diterima secara
universal. Emosi adalah suatu reaksi penilaian antara positif dan negative yg
komplek dari system saraf seseorang karena diawali dari rangsangan baik dari
luar (benda, manusia,situasi dan cuaca) ataupun dari dalam diri ita (tekanan
darah, kadar gula, lapar,ngantuk dll).Emosi secara estimologi berasal dari kata
prancis emotion yang berasal dari emouvoir yang artinya keluar ,bergerak atau
bergerak keluar menjauh. Bisa dikatakan lepas kendali dari yang seharusnya.
Emosi dalam pemakaian sehari-hari mengacu pada kepada ketegangan yang terjadi
pada individu akibat dari tingkat kemarahan yang tinggi.
Terdapat banyak pakar yang
mendefinisikan pengertian emosi, diantaranya:
·
James
dalam buku Purwanto dan Mulyono tahun 2006, mendefinisikan,emosi adalah
keadaan jiwa yang menampakkan diri dengan sesuatu perubahan yang jelas pada
tubuh.
·
Chaplin
pada tahun 2002, mendefinisikan, emosi adalah suatu keadaan yang terangsang
dari organisme yang mencakup perub ahan-perubahan yang didasari, yang
mendalam sifatnya, dan perubahan perilaku.
Ada dua macam pendapat tentang terjadinya emosi, yaitu
pendapat nativistik (emosi adalah bawaan) dan pendapat empirik (emosi adalah
hasil belajar/ pengalaman).
Teori emosi nativistik menurut Rene Descartes (1596),
yaitu manusia sejak lahir memiliki enam emosi dasar, yaitu: cinta,
kegembiraan, keinginan, benci, sedih dan kagum. Salah satu dasar yang
melandasi teori natifistik adalah ekspresi emosi pada dasarnya sama dengan
hewan dan manusia, anak kecil maupun orang dewasa.
Setelah Rene Descartes, terdapat banyak pakar yang
mengajukan teori emosi natifistik (bawaan lahir), diantaranya adalah:
Teori emosi golongan empiris menggutamakan hubungan jiwa
yang berpusat diotak, dengan rangsangan dari luar melalui jaringan syaraf
tubuh pada manusia. Yaitu dari indra ke pusat, dan diolah dipusat dan kembali
ke tepi ( motorik/kelenjar-kelenjar) dalam bentuk reaksi tubuh.
Terdapat teori empirik klasik tentang emosi, yaitu:
Fungsi Emosi
Meskipun emosi mempunyai
banyak sisi negatifnya apabila kita tidak dapat mengendalikannya, namun emosi
juga mempunyai fungsi yang baik untuk kehidupan kita,diantarannya adalah:
·
Sebagai
pembangkit energy, tanapa emosi tidak sdar atau sama dengan orang yang
mati karena hidup artinya merasai, mengalami, bereaksi dan bertindak.
·
Sebagai
pembawa informasi yaitu keadaan diri sendiri dapat diketahui melalui
emosi, contoh ketika bahagia berati mendapat sesuatu yang disenangi dan
begitu pula sebaliknya.
·
Sebagai
komunikasi contohnya seorang pembicara yang menyertakaan seluruh emosinya
dalam berpidato dirasa lebih hidup, lebih dinamis dan dianggap lebih
menyakinkan.
Macam –Macam Emosi
Macam-macam emosi teriri atas:
·
Emosi
senang, umumnya didefinisikan sebagai segala sesuatu yang membuat kesenangan
dalam hidup. Yang berekspresi memancarkan rautmuka yang berseri, tersenyum
dan gembira.
·
Emosi
marah, marah adalah emosi yang paling popular dalam percakapan sehari-hari.
Banyak perilaku yang menyertai emosi marah, mulai dari tindakan diam atau
menarik diri hingga ke tindakan yang agresif. Emosi marah dikenali melalui
perubahan raut muka (merah padam), nada suara yang berat, atau sedang
menyerang dan lain-lain
Macam-macam emosi menurut Daniel Goleman, yaitu :
·
Amarah
adalah salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi brutal,
mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit,
tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan kebencian patologis.
·
Kesedihan
ialah salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi pedih, sedih,
muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan
depresi.
·
Rasa
takut merupakan salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi cemas,
takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak
tenang, ngeri, kecut, panik dan fobia.
·
Kenikmatan
adalah salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi bahagia,
gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi,
takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang, senang sekali dan mania.
·
Cinta
ialah salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi penerimaan,
persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran
dan kasih sayang.
·
Terkejut
merupakan salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi terkesiap,
takjub dan terpana.
·
Jengkel
adalah salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi hina, jijik,
muak, mual, benci, tidak suka dan mau muntah.
·
Malu
merupakan salah satu dari bentuk emosi yang di dalamnya meliputi rasa
bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib dan hati hancur lebur.
Emosi hadir dalam dua bentuk, pertama adalah “tone
emotional” atau latar belakang yang relative bertahan lama, atau yang disebut
sebagai mood. Yang kedua adalah emosi spesifik dari kegembiraan, kemarahan,
ketakutan dsb. Dan akan kembali lagi dengan periode yang bervariasi
tergantung pada individu yang mengalaminya.
Ada dua macam pendapat tentang
terjadinya emosi, yaitu pendapat nativistik atau bawaan dan pendapat empiric
atau hasil belajar. Salah satu argumentasi yang melandasi teori-teori
nativistik adalah bahwa ekpresi emosi pada dasarnya sama saja diantara hewan
dan manusia. Sedangkan secara empiris sangat mengutamakan hubungan antara
jiwa yang berpusat di otak dengan rangsangan-rangsangan dari lingkungan
melalui jaringan syaraf pada tubuh manusia, yaitu indra, otak, motoric dalam
bentuk reaksi-reaksi tubuh. Selain itu ada teori empiric klasik ,yang
didasarkan pada hubungan otak atau syaraf dengan rangsangan dari lingkungan.
Jelaslah menurut psikologi kognitif, emosi sangat tergantung pada pengalaman,
dipelajari dan empirik. Pada umunya, emosi itu bisa konkrit dan bisa abstrak.
Maka emosi yang konkrit berkisar pada hal-hal yang dapat diraba seperti orang
atau benda. Adapun emosi yang abstrak terpusat pada pengertian, seperti cinta
akan keindahan, cinta harga diri, dan
menghargai.
Para ahli yang
menekuni bidang psikoanalisa percaya bahwa emosi merupakan representasi dari
ketidaksadaran. Emosi atau afek dalam istilah psikoanalisa merupakan
mekanisme mengontrol semua aspek perilaku manusia. Emosi dipercaya sangat
dekat berhubungan dengan dorongan atau motif. emosi merupakan bagian dari
motivasia yang saling berkaitan dan tidak bisa lepas antara keduanya. Emosi
senantiasa melahirkan dorongan-dorongan untuk melakukan sesuatu terkait
tuntutan emosi yang dirasakan pada saat itu.
Untuk menghindari
situasi tanpa harapan, seseorang dilahirkan dengan kapasitas untuk merasa
tertekan dan menarik diri. Pendek kata, emosi adalah cara bagaimana kebutuhan
seorang manusia di penuhi. Kebutuhan untuk dilindungi, aman, berkuasa, mengontrol,
tertarik, dan otonomi diri dipenuhi melalui emosi-emosi yang muncul. Misalnya
kebutuhan berkuasa memunculkan rasa sombong dan bangga jika sudah berkuasa.
Jika belum berkuasa, muncullah rasa was-was atau terancam pihak yang
berkuasa, yang oleh karenanya mendorong untuk jadi berkuasa.
Sistem motivasional
manusia dipercaya menunjukkan dirinya melalui emosi. Pada saat sebuah emosi
muncul, itulah tanda bahwa motivasi tertentu menjadi aktif. Misalnya saat
merasa lapar, ketika menemukan makanan, muncullah emosi tertentu
yang menunjukkan aksesibilitas terhadap makanan itu. Jika makanan itu berbau
dan berbelatung, mungkin muncul rasa jijik sehingga kita tidak mau
memakannya. Jika makanan itu dimakan, muncullah emosi lega.
Kita mungkin tidak
menyadari dorongan, motif atau motivasi kita dalam suatu saat. Namun demikian
adalah nyata bahwa hal-hal tersebut mempengaruhi emosi kita. Mengapa emosi
cinta muncul pada lawan jenis yang menarik? Tidak lain karena kita memiliki
dorongan seksual terhadap lawan jenis. Kadang kita kurang menyadari hal itu.
Adapun yang kita sadari hanyalah kita rindu ingin bertemu.
Emosi merupakan motivator utama manusia dalam menjalani hidup. Manusia selalu berupaya memaksimalkan emosi-emosi yang menyenangkan dan meminimalkan emosi-emosi yang tidak menyenangkan. Hampir semua kegiatan yang dilakukan manusia dalam rangka itu. Meskipun tentu saja tidak selalu berhasil. Namun pasti, itulah yang dilakukan semua orang. Orang bekerja adalah dalam rangka mendapatkan emosi yang lebih menyenangkan. Orang berharap lebih bahagia jika berhasil melakukannya. |
BAB III
Kepribadian
A.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Psikologi
kepribadian adalah salah satu cabang dari ilmu psikologi. Psikologi kepribadian
merupakan salah satu ilmu dasar yang penting guna memahami ilmu psikologi.
Manusia sebagai objek material dalam pembelajaran ilmu psikologi tentu memiliki
kepribadian dan watak yang berbeda satu dengan yang lainnya. Watak digunakan
untuk memberikan penafsiran kepada benda-benda maupun manusia.
secara
sederhana bahwa yang dimaksud kepribadian (personality) merupakan ciri-ciri dan
sifat-sifat khas yang mewakili sikap atau tabiat seseorang, yang mencakup pola
- pola pemikiran dan perasaan, konsep diri, dan mentalitas yang umumnya sejalan
dengan kebiasaan umum. Dari situ lah timbul yang namanya pengetahuan,
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui yang tersusun secara logis dan
sistematis dengan memperhitungkan sebab –akibat dan dapat untuk menerangkan
gejala – gejala tertentu. Unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seorang
manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya.
Seiring
dengan perkembangan zaman dan berkembangnya rasa keingintahuan dalam memahami
manusia. Salah satu teori yang dijadikan pembelajaran dalam memahami
kepribadian dan watak manusia.
B.PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kepribadian
Pengertian
kepribadian adalah ciri – ciri watak seseorang individu yang konsisten, yang
memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus, yang
dimaksudkan adalah bahwa orang tersebut mempunyai beberapa ciri watak yang
diperlihatkan secara lahir, konsisten dan konskuen dalam tingkah lakunya
sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berada dari
individu – individu. ( Koetjaraningrat, 1985:102).
Pengertian
kepribadian menurut para ahli sebagai berikut :
- Menurut Yinger kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan system kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian instruksi.
- Menurut M.A.W Bouwer kepribadian adalah corak tingkah laku social yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sikap-sikap seseorang.
- Menurut Cuber kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang.
- Menurut Theodore R. Newcombe kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.
- Menurut Horton Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan temparmen seseorang. Sikap perasaan ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di hadapan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan prilaku yang baku, atau pola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya.
- Menurut Schever Dan Lamm mendefinisikan kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri kas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atu baku, sehingga kalau di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang di hadapi.
- Menurut Roucek dan WarrenKepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku seseorang.
Dari
pengertian yang diungkapkan oleh para ahli di atas, dapat kita simpulkan secara
sederhana bahwa yang dimaksud kepribadian (personality) merupakan ciri-ciri dan
sifat-sifat khas yang mewakili sikap atau tabiat seseorang, yang mencakup pola
- pola pemikiran dan perasaan, konsep diri, dan mentalitas yang umumnya sejalan
dengan kebiasaan umum.
2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian antara lain:
- Faktor Biologis
Faktor biologis merupakan faktor yang berhubungan dengan
keadaan jasmani, atau seringkali pula disebut faktor fisiologis seperti keadaan
genetik, pencernaan, pernafasaan, peredaran darah, kelenjar-kelenjar, saraf,
tinggi badan, berat badan, dan sebagainya. Kita mengetahui bahwa keadaan
jasmani setiap orang sejak dilahirkan telah menunjukkan adanya
perbedaan-perbedaan. Hal ini dapat kita lihat pada setiap bayi yang baru lahir.
Ini menunjukkan bahwa sifat-sifat jasmani yang ada pada setiap orang ada yang
diperoleh dari keturunan, dan ada pula yang merupakan pembawaan anak/orang itu
masing-masing. Keadaan fisik tersebut memainkan peranan yang penting pada
kepribadian seseorang.
- Faktor Sosial
Faktor sosial yang dimaksud di sini adalah masyarakat ;
yakni manusia-manusia lain disekitar individu yang bersangkutan. Termasuk juga
kedalam faktor sosial adalah tradisi-tradisi, adat istiadat,
peraturan-peraturan, bahasa, dan sebagainya yang berlaku dimasyarakat itu.
Sejak dilahirkan, anak telah mulai bergaul dengan
orang-orang disekitarnya. Dengan lingkungan yang pertama adalah keluarga. Dalam
perkembangan anak, peranan keluarga sangat penting dan menentukan bagi
pembentukan kepribadian selanjutnya. Keadaan dan suasana keluarga yang
berlainan memberikan pengaruh yang bermacam-macam pula terhadap perkembangan
kepribadian anak.
Pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan anak
sejak kecil adalah sangat mendalam dan menentukan perkembangan pribadi anak
selanjutnya. Hal ini disebabkan karena pengaruh itu merupakan pengalaman yang
pertama, pengaruh yang diterima anak masih terbatas jumlah dan luasnya,
intensitas pengaruh itu sangat tinggi karena berlangsung terus menerus, serta
umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana bernada emosional. Kemudian semakin
besar seorang anak maka pengaruh yang diterima dari lingkungan sosial makin
besar dan meluas. Ini dapat diartikan bahwa faktor sosial mempunyai pengaruh
terhadap perkembangan dan pembentukan kepribadian.
- Faktor Kebudayaan
Perkembangan dan pembentukan kepribadian pada diri masing-masing orang tidak
dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat di mana seseorang itu dibesarkan.
Beberapa aspek kebudayaan yang sangat mempengaruhi perkembangan dan
pembentukan kepribadian antara lain:
a.
Nilai-nilai (Values)
Di dalam setiap kebudayaan terdapat nilai-nilai hidup yang
dijunjung tinggi oleh manusia-manusia yang hidup dalam kebudayaan itu. Untuk
dapat diterima sebagai anggota suatu masyarakat, kita harus memiliki
kepribadian yang selaras dengan kebudayaan yang berlaku di masyarakat itu.
b. Adat
dan Tradisi.
Adat dan tradisi yang berlaku disuatu daerah, di samping
menentukan nilai-nilai yang harus ditaati oleh anggota-anggotanya, juga
menentukan pula cara-cara bertindak dan bertingkah laku yang akan berdampak
pada kepribadian seseorang.
c.
Pengetahuan dan Keterampilan.
Tinggi rendahnya pengetahuan dan keterampilan seseorang atau
suatu masyarakat mencerminkan pula tinggi rendahnya kebudayaan masyarakat itu.
Makin tinggi kebudayaan suatu masyarakat makin berkembang pula sikap hidup dan
cara-cara kehidupannya.
d. Bahasa
Di samping faktor-faktor kebudayaan yang telah diuraikan di
atas, bahasa merupakan salah satu faktor yang turut menentukan cirri-ciri khas
dari suatu kebudayaan. Betapa erat hubungan bahasa dengan kepribadian manusia
yang memiliki bahasa itu. Karena bahasa merupakan alat komunikasi dan alat
berpikir yang dapat menunukkan bagaimana seseorang itu bersikap, bertindak dan
bereaksi serta bergaul dengan orang lain.
e.
Milik Kebendaan (material possessions)
Semakin maju kebudayaan suatu masyarakat/bangsa, makin maju
dan modern pula alat-alat yang dipergunakan bagi keperluan hidupnya. Hal itu
semua sangat mempengaruhi kepribadian manusia yang memiliki kebudayaan itu.
2.3 Hubungan Kepribadian Dengan Kebudayaan
Menurut
Roucek dan Warren, kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis,
psikologis dan sosiologis yang mendasari perilaku individu. Faktor biologis
misalnya, sistem syaraf, proses pendewasaan, dan kelainan biologis lainnya,
sedangkan faktor psikologis adalah seperti unsur temperamen, kemampuan belajar,
perasaan, keterampilan, keinginan dan lain-lain. Dan yang terakhir, adalah
faktor sosiologis. Kepribadian dapat mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap dan
lain-lain yang khas dimiliki oleh seseorang yang berkembang apabila orang tadi
berhubungan dengan orang lain
Seseorang
yang sejak kecil dilahirkan sampai dewasa selalu belajar dari orang-orang
disekitarnya. Secara bertahap dia akan mempunyai konsep kesadaran tentang
dirinya sendiri. Lama-kelamaan perilaku-perilaku si anak akan menjadi sifat
yang nantinya menghasilkan suatu kepribadian.
Berikut
ini adalah beberapa kebudayaan khusus yang nyata mempengaruhi bentuk
kepribadian yakni:
- Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan
Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di
Minangkabau biasanya pihak permpuan yang melamar sedangkan di Lampung, pihak
laki-laki yang melamar.
- Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda ( urban dan rural ways of life ).
Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan
seorang anak yang dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan
berani untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak
desa lebih mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap menilai ( sense
of value ).
- Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas sosial
Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal,
ada lapisan sosial tinggi, rendah dan menengah. Misalnya cara berpakaian, etiket,
pergaulan, bahasa sehari-hari dan cara mengisi waktu senggang. Masing-masing
kelas mempunyai kebudayaan yang tidak sama, menghasilkan kepribadian yang
tersendiri pula pada setiap individu.
- Kebudayaan khusus atas dasar agama
Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan
kepribadian yang berbeda-beda di kalangan umatnya.
- Kebudayaan berdasarkan profesi
Misalnya: kepribadian seorang dokter berbeda dengan
kepribadian seorang pengacara dan itu semua berpengaruh pada suasana
kekeluargaan dan cara mereka bergaul. Contoh lain seorang militer mempunyai
kepribadian yang sangat erat hubungan dengan tugas-tugasnya. Keluarganya juga
sudah biasa berpindah tempat tinggal.
2.4 Hubungan Kepribadian Dengan Keragaman Individu.
Keesing
(1989, 1 : 95 ) menyatakan Asumsi – asumsi dasar tersebut di atas ( hubungan
kepribadian dengan budaya ) menunjukkan bahwa adanya pengaruh biologis terhadap
pembentukan tingkah laku manusia. Selain unsur biologis, ternyata juga
dipengaruhi oleh faktor yang berbeda antara satu dengan lain. Pengakuan
pentingnya faktor – faktor biologis tersebut menghilangkan dasar – dasar
budaya. Sementara pendapat suatu karakteristik dapat mendasari dan
membatasi keragaman budaya, sedangkan pihak lain menjelaskan bahwa berbagai
perbedaan bawaan dan keragaman pengalaman individu menyulitkan pembakuan
seseorang yang diasumsikan.Hal ini sekaligus membuka kesempatan ke arah kajian
tentang kemungkinan adanya pola – pola universal yang disalurkan,diutarakan dan
dinilai berdasarkan tradisi budaya yang berbeda. Tradisi budaya dapat
memaksakan pencapaian berbagai sasaran yang berlainan , pelampiasan. Tetapi di
bawah sandi harapan budaya ini.
2.5 Unsur-Unsur Kepribadian
Koentjaraningrat
(1985:103-110) menjelaskan ada beberapa unsur yang mempengaruhi terbentuknya
kepribadian sebagai berikut :
- Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui yang
tersusun secara logis dan sistematis dengan memperhitungkan sebab –akibat dan
dapat untuk menerangkan gejala – gejala tertentu. Unsur-unsur yang mengisi akal
dan alam jiwa seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam
otaknya. Dalam lingkungan individu itu ada bermacam-macam hal yang dialaminya
melalui penerimaan pancaindera-nya serta alat penerima atau reseptor
organismenya yang lain, sebagai getaran eter (cahaya dan warna), getaran
akustik (suara), bau, rasa, sentuhan, tekanan mekanikal (berat-ringan), tekanan
termikal (panas-dingin) dan sebagainya, yang masuk ke dalam sel-sel tertentu di
bagian-bagian tertentu dari otaknya. Di sana berbagai proses fisik, fisiologi,
dan psikologi terjadi, yang menyebabkan berbagai macam getaran tekanan tadi,
kemudian diolah menjadi suatu susunan yang dipancarkan atau diproyeksikan oleh
individu tersebut menjadi suatu penggambaran tentang lingkungan tadi. Seluruh
proses akal yang sadar (conscious) tadi, dalam ilmu psikologi disebut
“persepsi”.
- Perasaan
Perasaan adalah rasa, kesadaran batin sewaktu menghadapi mempertimbangkan
tentang sesuatu hal/pendapat. Selain pengetahuan, alam kesadaran manusia juga
mengandung berbagai macam perasaan. Kalau orang pada suatu hari yang luar biasa
panasnya melihat papan gambar reklame minuman Green tea berwarna yang tampak
segar dan nikmat, maka persepsi itu menyebabkan seolah-olah terbayang di
mukanya suatu penggambaran segelas Green tea yang dingin dan penggambaran itu
dihubungkan oleh akalnya dengan penggambaran lain yang timbul kembali sebagai
kenangan dalam kesadarannya, menjadi suatu apersepsi
tentang dirinya sendiri yang tengah menikmati segelas Green tea dingin, manis,
dan menyegarkan pada waktu hari sedang panas-panasnya yang seakan-akan demikian
realistiknya sehingga keluarlah air liurnya. Apersepsi seorang individu yang
menggambarkan diri sendiri sedang menikmati segelas Green tea dingin tadi
menimbulkan dalam kesadarannya suatu perasaan yang positif, yaitu perasaan
nikmat dan perasaan nikmat itu sampai nyata mengeluarkan air liur.
Sebaliknya, kita dapat juga menggambarkan adanya seorang individu yang melihat
sesuatu hal yang buruk atau mendengar suara yang tidak menyenangkan, mencium
bau busuk, dan sebagainya.Persepsi-persepsi seperti itu dapat menimbulkan dalam
kesadaran perasaan yang negatif, karena dalam kesadaran terkenang lagi misalnya
bagaimana kita menjadi muak karena sepotong ikan yang sudah busuk yang kita
alami di masa lampau.Apersepsi tersebut mungkin dapat menyebabkan kita menjadi
benar-benar merasa muak apabila kita mencium lagi bau ikan busuk.
- Dorongan Naluri
Dorongan naluri adalah dorongan hati yang dibawa sejak lahir, yang tanpa
disadari mendorong untuk berbuat sesuatu. Kesadaran manusia menurut para ahli
psikologi juga mengandung berbagai perasaan lain yang tidak ditimbulkan karena
pengaruh pengetahuannya, melainkan karena sudah terkandung dalam organismenya,
dan khususnya dalam gen-nya sebagai naluri. Kemauan yang sudah merupakan naluri
pada tiap makhluk manusia itu, oleh beberapa ahli psikologi disebut “dorongan”
(drive).
Ada tujuh macam dorongan naluri, yaitu :
a.
Dorongan untuk mempertahankan hidup
Dorongan ini memang merupakan suatu kekuatan biologi yang juga
pada semua makhluk di dunia ini dan yang menyebabkan semua jenis mampu
mempertahankan hidupnya di dunia ini.
b. Dorongan
seks.
Dorongan ini timbul pada setiap individu yang normal tanpa
terkena pengaruh pengetahuan, dan memang mendorong landasan biologi yang
mendorong makhluk manusia untuk membentuk keturunan yang melanjutkan jenisnya.
Selain untuk mendapatkan keturunan, juga untuk mendapatkan status sosial.
c.
Dorongan untuk usaha mencari makan/pekerjaan.
Dorongan ini tidak perlu dipelajari, sejak bayi pun manusia
sudah menunjukkan dorongan untuk mencari makanan , yaitu dengan mencari
susu ibunya tanpa dipengaruhi oleh pengetahuan tentang adanya hal- hal
tersebut, dan ini berkembang (mencari kerja) berdasarkan pengalaman dan
pengetahuan serta faktor lingkungan di sekitar.
d. Dorongan
untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia.
Dorongan ini memang merupakan landasan biologi dari
kehidupan masyarakat manusia sebagai makhluk sosial.
e.
Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya.
Hal ini merupakan sumber dari adanya beraneka warna
kebudayaan diantaranya di antara makhluk manusia, sebab adanya dorongan ini
manusia mengembangkan adat yang memaksakan berbuat konform dengan manusia
sekitarnya.
f.
Dorongan untuk berbakti.
Hal ini ada karena manusia sebagai makhluk secara kolektif,
sehingga ia dapat hidup bersama dengan manusia lain secara serasi. Dalam
berbagai hal dorongan ini sering dieksetensikan dari sesama manusia kepada
kekuatan yang diangapannya berada di luar akalnya, maka timbul religi.
g.
Dorongan akan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, suara, atau gerak.
Dorongan dalam arti keindahan bentuk,warna,suara,dan gerak,
pada seorang bayi dorongan itu sering tampak pada gejala tertariknya kepada
bentuk – bentuk tertentu dari benda- benda di sekitarnya, warna –warna cerah,
suara yang nyaring, dan berirama dan kepada gerak-gerak yang selaras. Sehingga
dorongan naluri ini merupakan landasan dari suatu unsur terpenting dalam
kebudayaan manuai yaitu kesenian.
2.6 Materi Dari Unsur-Unsur Kepribadian
Dalam sebuah konsep kepribadian umum,makin dipertajam dengan
terciptanya konsep basic personality structure, atau “kepribadian
dasar”, yaitu semua semua unsur kepribadian yang dimiliki sebagian besar warga
suatu masyarakat.
Kepribadian dasar ada karena semua individu warga masyarakat
mengalami pengaruh lingkungan kebudayaan yang sama selama pertumbuhan mereka.
Metodologi untuk mengumpulkan data mengenai kepribadian bangsa dapat dilakukan
dengan mengumpulkan sample dari warga masyarakat yang menjadi objek penelitian,
yang kemudian diteliti kepribadiannya dengan tes Psikologi.
Selain ciri watak umum, seorang Individu memilki ciri-ciri
wataknya sendiri, sementara adaindividu-individu dalam sample yang tidak meliki
unsur-unsur kepribadian umum. Pendekatan dalam penelitian kepribadian suatu
kebudaya juga dilaksanakan dengan metode lain yang didasarkan pada ciri-ciri
dan unsur watak seorang individu dewasa.
Pembentukan watak dan jiwa individu banyak dipengaruhi oleh
pengalamannya di masa kanak-kanak serta pola pengasuhan orang tua.Berdasarkan
konsepsi Psikologi tersebut, para ahli Antropologi berpendirian bahwa dengan
mempelajari adat-istiadat pengasuhan anak yang khas akan dapat mengetahui
adanya berbagai unsur kepribadian pada sebagian besar warga yang merupakan
akibat dari pengalaman-pengalaman mereka sejak masa kanak-kanak.
Penelitian mengenai etos kebudayaan
dan kepribadian bangsa yang pertama-tama dilakukan oleh tokoh Antroplogi R.
Benedict, R. Linton, dan M. Mead.Sehingga menjadi bagian khusus dalam
antropologi yang dinamakan personality and culture.
Seorang
ahli etnopsikologi, A.F.C. Wallace, pernah membuat suatu kerangka dimana
terdaftar secara sistematikal seluruh materi yang menjadi objek dan sasaran
unsur-unsur kepribadian manusia. Kerangka itu menyebut tiga hal yang pada tahap
pertama merupakan isi kepribadian pokok, yaitu :
1. Aneka
warna kebutuhan organik diri sendiri, aneka warna kebutuhan serta dorongan
organik maupun psikologi sesama manusia yang lain daripada diri sendiri.
Sedangkan kebutuhan tadi dapat dipenuhi atau tidak dipenuhi oleh individu yang
bersangkutan, sehingga memuaskan dan bernilai positif baginya, atau tidak
memuaskan dan bernilai negatif.
2. Aneka
warna hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu akan identitas diri
sendiri atau identitas aku, baik aspek fisik maupun psikologinya, dan segala
hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu mengenai bermacam-macam
kategori manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda, zat, kekuatan, dan gejala
alam, baik yang nyata maupun yang gaib dalam lingkungan sekelilingnya.
3. Berbagai
macam cara untuk memenuhi. Memperkuat, berhubungan, mendapatkan, atau
mempergunakan aneka warna kebutuhan dari hal tersebut di atas, sehingga
tercapai keadaan memuaskan dalam kesadaran individu bersangkutan. Pelaksanaan
berbagai macam cara dan jalan itu terwujud dalam aktivitas dari seorang
individu.
2.7 Aneka Warna Kepribadian
Koentjraningrat
(1985:115) menjelaskan bahwa Aneka warna materi yang menjadi isi dan sasaran
dari pengetahuan, perasaan, kehendak, serta keinginan kepribadian serta
perbedaan kualitas hubungan antara berbagai unsur kepribadian dalam kesadaran
individu, menyebabkan adanya beraneka macam struktur kepribadian pada setiap manusia
yang hidup dimuka bumi, dan menyebabkan bahwa peribadian tiap individu itu unik
berbeda dengan kepribadian individu yang lain. Hal ini menyebabkan suatu
tingkah laku yang berpola yaitu kebiasaan maupun berbagai macam materi yang
menyebabkan timbulnya kepribadian , dan berbagai tingkah laku berpola dari
individu – individu tersebut.
2.8 Tahap-Tahap Perkembangan Kepribadian
Perkembangan
kepribadian menurut Jean Jacques Rousseau berlangsung dalam beberapa tahap
yaitu:
1. Tahap
perkembangan masa bayi (sejak lahir- 2 tahun)
Tahap ini didominasi oleh perasaan.Perasaan ini tidak tumbuh
dengan sendiri melainkan berkembang sebagai akibat dari adanya reaksi-reaksi
bayi terhadap stimulus lingkungan.
2. Tahap
perkembangan masa kanak-kanak (umur 2-12 tahun)
Pada tahap ini perkembangan kepribadian dimulai dengan makin
berkembangnya fungsi indra anak dalam mengadakan pengamatan.
3. Tahap
perkembangan pada masa preadolesen (umur 12- 15 tahun)
Pada tahap ini perkembangan fungsi penalaran intelektual
pada anak sangat dominan. Anak mulai kritis dalam menanggapi ide orang lain.
anak juga mulai belajar menentukan tujuan serta keinginan yang dapat
membahagiakannya.
4. Tahap
perkembangan masa adolesen (umur 15- 20 tahun)
Pada masa ini kualitas hidup manusia diwarnai oleh dorongan
seksualitas yang kuat, di samping itu mulai mengembangkan pengertian tentang
kenyataan hidup serta mulai memikirkan tingkah laku yang bernilai moral.
5. Tahap
pematangan diri (setelah umur 20 tahun)
Pada tahap ini perkembangan fungsi kehendak mulai
dominan.Mulai dapat membedakan tujuan hidup pribadi, yakni pemuasan keinginan
pribadi, pemuasan keinginan kelompok, serta pemuasan keinginan masyarakat.Pada
masa ini terjadi pula transisi peran social, seperti dalam menindaklanjuti
hubungan lawan jenis, pekerjaan, dan peranan dalam keluarga, masyarakat maupun
Negara. Realisasi setiap keinginan
2.9 Kepribadian Umum
Koentjaraningrat
(1985:117) mengutip pendapat Ralp Linton menyatakan bahwa yang mengembangkan suatu
penelitian tentang kepribadian umum. Ia mencari hubungan dengan para ahli
psikologi untuk mempertajam pengertian tentang konsep – konsep psikologi yang
menyangkut kepribadian umum tersebut. Kepribadian dasar itu ada karena semua
individu dari warga masyarakat mengalami pengaruh lingkungan kebudayaan yang
sama selama masa tumbuhnya.
Pembentukan
watak dalam jiwa individu banyak dipengaruhi oleh pengalaman ketika ia sebagai
anak – anak yang diasuh orang – orang dalam lingkungan nya seperti : bapak
–ibunya, saudara-saudaranya dan orang –orang yang ada dalam sekitarnya. Watak
juga ditentukan oleh cara – cara ia sewaktu masih kecil: diajari
makan,kebersihan,disiplin,bermain dan bergaul dengan anak – anak lainnya. Oleh
sebab itu setiap kebudayaan /masyarakat mempunyai cara pengasuhan anak
menunjukkan keseragaman pola –pola adat dan norma –norma tertentu.
Penelitian
pertama mengenal etos kebudayaan dan kepribadian bangsa yang dimulai oleh
antropolog: R. Benedit, Ralph Linton dan Margaret Mead yang dikembangkan dalam
penelitian kepribadian dan kebudayaan.
Koertjaraningrat
(1985;111-130) membedakan antara kepribadian barat dan kepribadian timur, yaitu
:
1. Kepribadian
barat yaitu konsep tentang pandangan hidup yang lebih mementingkan
material,pikiran logis/rasional, hubungan sosial berorientasi pada azas
menguntungkan dan bersifat individual.
2. Kepribadian
timur yaitu konsep tentang pandangan hidup yang lebih mementingkan kerohanian,
keramahan, solidaritas sosial, kerukunan hidup bersama, spritual dan berpikir
logis.
BIG THANKS TO 🙂

Komentar
Posting Komentar